POLMAN – FMSnews.co.id – Di bawah langit malam yang hening, kerlap-kerlip api unggun menerangi halaman rumah dan area persawahan milik Abdullah, warga Dusun Katitting, Desa Tandung, Kabupaten Polewali Mandar. Malam itu, Senin 8 Juni 2026, tempat itu berubah menjadi pusat kehangatan saat puluhan warga berkumpul dengan satu tujuan: menyiapkan tradisi turun-temurun sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya hasil bumi, menjelang puncak Pesta Panen yang digelar Selasa 9 Juni 2026.
Di tengah kobaran api yang dikelola dengan cermat, terlihat barisan ruas bambu muda berjejer rapi, dibakar perlahan di atas bara yang disusun dari sabut kelapa dan kayu kering. Di sanalah proses pembuatan Leman—makanan khas Sulawesi yang menjadi ikon perayaan ini—berlangsung. Beras ketan pilihan yang telah dimasukkan ke dalam bambu muda dimasak perlahan, sehingga memunculkan aroma harum yang khas, perpaduan antara wangi ketan dan getah bambu yang terbakar, menyebar memenuhi udara persawahan.
Lebih dari sekadar teknik memasak, tradisi ini mengandung filosofi mendalam. Leman melambangkan kebersamaan, ketabahan, dan rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia panen yang diberikan. Seluruh prosesnya dijalankan secara gotong royong: mulai dari memilih bambu yang masih segar, menyiapkan beras ketan, hingga mengatur api agar panasnya merata dan tidak merusak isinya. Semua dilakukan bersama tanpa membedakan usia, status, maupun latar belakang, mencerminkan jiwa persatuan yang tetap hidup di tengah masyarakat pedesaan.

“Kami melestarikan cara ini bukan tanpa alasan. Sejak nenek moyang, Leman dibuat untuk dibagikan bersama. Bambu yang dipakai harus yang masih muda, agar nantinya rasanya manis, legit, dan aromanya khas. Membakarnya pun tidak boleh tergesa-gesa, harus sabar agar matang merata,” ungkap Abdullah selaku tuan rumah, sambil sesekali memeriksa posisi bambu di atas bara api.
Setelah dibakar semalaman hingga matang sempurna, keesokan harinya bambu akan dibuka, dan Leman yang berwarna putih mengkilap siap dibagikan secara adil kepada seluruh warga. Makanan ini biasanya disantap bersama lauk-pauk khas daerah, menjadikan Pesta Panen bukan hanya acara makan-makan, melainkan ajang silaturahmi, berbagi cerita, dan mempererat ikatan persaudaraan antarwarga Dusun Katitting.
Kepala Desa Tandung, Sarifuddin, turut hadir dan menyampaikan apresiasinya yang mendalam. Ia menilai kegiatan ini adalah bukti nyata kekayaan budaya yang harus dijaga.
“Di tengah derasnya arus zaman, tradisi seperti ini menjadi penanda jati diri kami. Membakar Leman dan menggelar pesta panen mengajarkan kami bahwa keberhasilan tidak dinikmati sendirian, dan rasa syukur sebaiknya diungkapkan secara bersama. Semoga ini terus diwariskan, menjadi pengingat bahwa kebersamaan adalah fondasi kesejahteraan,” ujarnya.
Saat malam semakin larut dan asap pembakaran perlahan menghilang tertiup angin sawah, semangat kebersamaan justru semakin membara. Persiapan ini menjadi awal yang indah, membuktikan bahwa di Desa Tandung, nilai luhur budaya, rasa syukur, dan persaudaraan tetap terjaga dengan hangat dan lestari.













