crossorigin="anonymous">
Polman  

9 Kilometer Menandu Nyawa: Tragedi Ibu Hamil di Tutar, Bayi dalam Kandungan Meninggal Akibat Jalan Rusak Parah

POLMAN – FMSnews.co.id, Tangis duka dan keprihatinan mendalam menyelimuti warga Desa Ratte, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sebuah tragedi kemanusiaan yang memilukan kembali menyoroti buruknya kondisi infrastruktur di wilayah pedalaman. Seorang ibu hamil harus ditempuh perjalanan sejauh kurang lebih 9 kilometer menggunakan tandu buatan warga karena akses jalan yang rusak parah, berlumpur, dan terputus, sehingga kendaraan maupun ambulans tidak bisa masuk. Sayangnya, perjuangan itu berakhir pilu: bayi yang dikandungnya meninggal dunia sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis.

Peristiwa ini menjadi bukti nyata betapa akses jalan yang layak masih menjadi barang mewah bagi warga di pelosok daerah. Jalan yang penuh bebatuan tajam, tanjakan curam, dan jembatan yang rusak membuat setiap perjalanan ke fasilitas kesehatan menjadi perjuangan berat dan penuh risiko nyawa. Ketika ibu hamil tersebut mengalami keluhan kesehatan dan membutuhkan penanganan darurat, tidak ada kendaraan yang bisa menjangkaunya. Satu-satunya cara adalah gotong royong warga membuat tandu darurat dan memikulnya berjam-jam melewati medan yang sulit dan licin.

“Kami tidak punya jalan, tapi kami punya kepedulian. Yang kami tandu ini nyawa manusia,” ujar salah satu warga dengan suara bergetar, mengungkapkan betapa beratnya perjalanan yang mereka tempuh demi menyelamatkan dua nyawa.

Baca Juga  Gubernur Sulbar Serahkan Bantuan Rp600 Juta untuk Korban Kebakaran di Polman

Puluhan warga bergantian memikul tandu, berjalan hati-hati menembus hujan, lumpur, dan jalan berbatu. Harapan besar menggantung agar ibu dan bayinya selamat sampai di rumah sakit. Namun, saat akhirnya tiba di fasilitas kesehatan, ibu selamat, namun dokter menyatakan janin dalam kandungannya sudah tidak bernyawa. Kelelahan, guncangan jalan, dan keterlambatan penanganan menjadi penyebab utama berakhirnya nyawa sang bayi.

Baca Juga  Keracunan Massal Siswa, IMM Sulbar Minta Audit Menyeluruh MBG

Tragedi ini memicu kemarahan dan keprihatinan masyarakat. Warga sudah lama mengeluhkan kondisi jalan di wilayah Tutar yang rusak parah, namun belum ada perbaikan berarti. Bagi mereka, masalah ini bukan lagi sekadar soal pembangunan fisik atau proyek, melainkan soal hidup mati warga.

“Akses jalan bagi kami bukan sekadar penghubung desa, tapi jalur kehidupan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan kebutuhan pokok lainnya. Kalau jalan putus atau rusak, kami yang paling menderita dan paling berisiko kehilangan nyawa,” ungkap seorang warga.

Kondisi ini menjadi ironi yang menyakitkan. Di tengah gaung pembangunan yang terus disuarakan pemerintah, masih ada warga yang harus mempertaruhkan dan kehilangan nyawa hanya karena tidak bisa menjangkau rumah sakit. Hal ini menegaskan adanya ketimpangan pembangunan yang masih sangat lebar antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.

Baca Juga  Hadirkan Literasi di Tengah Keramaian, Perpusip Sulbar Bawa Perpustakaan Keliling ke Pasar Malam Tinambung

Kini, warga Desa Ratte dan sekitarnya berharap keras agar pemerintah daerah maupun provinsi segera turun tangan. Mereka menegaskan sudah tidak butuh janji manis atau wacana pembangunan, melainkan tindakan nyata. Perbaikan jalan harus segera dilakukan agar tragedi kehilangan nyawa akibat akses yang terputus tidak terulang lagi.

Bagi warga Tutar, jalan yang mulus dan layak dilalui bukan lagi sekadar fasilitas umum, melainkan penentu hidup dan mati. Tanpa jalan yang baik, nyawa manusia tetap menjadi taruhan setiap kali mereka membutuhkan pertolongan darurat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-7063190161419447, DIRECT, f08c47fec0942fa0