crossorigin="anonymous">     crossorigin="anonymous">
Mamuju  

Ekonomi”: DKP Sulbar Dorong Transformasi Industri Rumput Laut di Panggung Global

MAMUJU – FMSnews.co.id, Langkah besar pembenahan ekonomi pesisir Sulawesi Barat melangkah ke panggung internasional. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulbar, Safaruddin Sanusi DM, dijadwalkan hadir dalam Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR) Annual Meeting 2026 di Universitas Hasanuddin Makassar, 20–23 Juli 2026. Kehadiran strategis ini mendapat dukungan penuh dari Gubernur Sulbar Suhardi Duka dan Sekretaris Daerah Junda Maulana untuk memperkuat fondasi pembangunan sektor kelautan daerah.

Mengusung tema besar “Coastal Communities Sulawesi: Science, Policy and Action”, Safaruddin akan memaparkan Strategi Transformasi Industri Rumput Laut Sulawesi Barat 2026. Salah satu sorotan tajam yang dibawanya adalah persoalan krusial “kebocoran ekonomi”. Hingga kini, sekitar 80% hasil produksi rumput laut Sulbar masih diekspor dalam bentuk bahan mentah. Padahal, nilai tambah di tahap pengolahan hilir mampu mendatangkan keuntungan hingga 500 persen yang belum sepenuhnya dinikmati petani lokal.

Selain itu, potensi lahan budidaya yang luas belum dimanfaatkan secara maksimal. Data menunjukkan baru 34,19% atau sekitar 1.951 hektare dari total potensi 5.706 hektare yang telah dikelola. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membuka ruang pengembangan yang lebih luas dan produktif.

Baca Juga  Sekprov Sulbar: Nilai Religius Modal Utama Pengembangan Ekosistem Halal Daerah

“Kita tidak bisa lagi hanya bergantung pada penjualan bahan mentah. Kita harus beralih menuju ekonomi sirkular agar nilai tambah industri ini benar-benar dinikmati oleh 23.000 rumah tangga pembudidaya kita yang selama ini menjadi garda terdepan pengentasan kemiskinan,” tegas Safaruddin di Mamuju, Minggu (19/7/2026).

Baca Juga  Dampingi Gubernur Hadiri Kegiatan SMD, Karo Pemkesra: Kita Akan Terus Support dan Dukung Kegiatan Keagamaan

Untuk menjawab tantangan tersebut, DKP Sulbar merancang terobosan komprehensif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Strategi mencakup digitalisasi melalui integrasi citra satelit dan drone guna pemantauan oseanografi yang presisi. Selain itu, dikembangkan konsep ekonomi sirkular dengan mengolah limbah menjadi pupuk organik serta memproses rumput laut mutu rendah menjadi bioplastik ramah lingkungan.

Penguatan kebijakan juga menjadi fokus utama. Riset ilmiah akan digunakan untuk menyempurnakan tata ruang pesisir dan memfasilitasi sistem resi gudang. Hal ini bertujuan memperkuat posisi tawar pembudidaya agar tidak terus-menerus dirugikan dalam rantai pasok.

Baca Juga  Perkuat Benteng Pencegahan Korupsi, Dispoparekraf Sulbar Ikut Asistensi SPIP dan IEPK Wujudkan Birokrasi Bersih

Dalam forum bergengsi tersebut, Safaruddin dijadwalkan menjadi narasumber utama dalam Panel Expert Talk Show bertema “Industri Rumput Laut Berkelanjutan” pada Selasa, 21 Juli pukul 11.00 WITA. Ia juga akan terlibat aktif dalam dua sesi kunci lainnya, yakni Research Advisory Panel Meeting serta bertindak sebagai pembahas dalam Science to Policy Forum terkait ekonomi sirkular.

Program PAIR merupakan kolaborasi riset bilateral Indonesia–Australia yang melibatkan 180 peneliti dari 19 universitas dan didanai melalui kerja sama DFAT serta Kemendiktisaintek. Kehadiran perwakilan Sulbar diharapkan menjembatani temuan akademik dengan kebijakan riil, sehingga hasil riset mampu memberikan dampak nyata dan kesejahteraan berkelanjutan bagi masyarakat pesisir Sulawesi Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

google.com, pub-7063190161419447, DIRECT, f08c47fec0942fa0