Dosen Program Studi Pendidikan Fisika melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pembelajaran dan praktik pengenalan coding serta teknologi sensor berbasis mikrokontroler bagi siswa jurusan elektronika di SMKN 1 Rangas, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 10 September 2026 tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman dasar kepada siswa mengenai keterkaitan antara perangkat keras elektronika, sensor, mikrokontroler, dan pemrograman melalui pendekatan praktik secara langsung.
Tim pengabdian menghadirkan lima pemateri, yakni Dr. Nur Aisyah Humairah, S.Si., M.Pd., Andi Rosman N, S.Si., M.Si., Fauziah A, S.Pd., M.Si., serta dua mahasiswa, Fadilah dan Neva. Materi diberikan secara bertahap mulai dari pengenalan konsep sensor dan mikrokontroler hingga praktik membangun sistem elektronika sederhana menggunakan Arduino dan simulator berbasis web.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep coding, tetapi juga diajak memahami bagaimana program dapat berinteraksi secara langsung dengan perangkat elektronika,” ujar tim pengabdian.
Dalam pembelajaran, siswa diperkenalkan pada konsep dasar sensor sebagai perangkat yang digunakan untuk mendeteksi atau mengukur kondisi lingkungan. Mereka juga diajak memahami perbedaan antara sensor dan mikrokontroler serta bagaimana data yang diperoleh sensor dapat dibaca, diproses, kemudian menghasilkan keluaran berdasarkan instruksi program.
“Materi disampaikan secara sederhana agar siswa dapat memahami logika pemrograman sekaligus melihat hubungan langsung antara kode yang ditulis dengan perangkat elektronika,” jelas tim pengabdian.
Untuk mendukung praktik, peserta menggunakan Wokwi, sebuah platform simulasi elektronika yang memungkinkan pengguna merancang rangkaian dan menjalankan program secara virtual. Pemanfaatan simulator tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan eksperimen tanpa sepenuhnya bergantung pada perangkat keras fisik.Pada sesi praktik, siswa menggunakan sensor DHT22 untuk melakukan pembacaan suhu dan kelembapan.
Peserta belajar menghubungkan sensor dengan Arduino, memasukkan library yang diperlukan, menulis program, hingga menampilkan hasil pengukuran melalui Serial Monitor.Siswa kemudian diminta melakukan perubahan kondisi sensor pada simulator dan mengamati perubahan data yang dihasilkan.
Proses tersebut memberikan pengalaman langsung mengenai hubungan antara perubahan input, pemrosesan data oleh mikrokontroler, dan keluaran yang ditampilkan sistem.Pendekatan praktik juga diarahkan untuk memperkenalkan konsep Input–Process–Output (IPO). Sensor berperan sebagai input, mikrokontroler dan program menjadi bagian dari proses, sedangkan informasi atau tindakan yang dihasilkan sistem menjadi output.
“Peserta tidak hanya menjalankan program yang telah disiapkan. Mereka juga diberikan tantangan untuk memodifikasi kode, mengubah kondisi input, mengamati hasil, serta mencari solusi ketika terjadi kesalahan,” kata tim pengabdian.
Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan memperoleh pengalaman awal dalam mengembangkan keterampilan pemrograman mikrokontroler, sensor, otomasi, dan sistem elektronika cerdas. Penggunaan simulator seperti Wokwi juga diharapkan dapat membangun keberanian siswa untuk bereksperimen sebelum menerapkan konsep yang dipelajari pada perangkat keras secara langsung.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kompetensi teknologi siswa sekolah menengah kejuruan, khususnya pada bidang fisika dan elektronika yang semakin erat dengan perkembangan mikrokontroler, sensor, pemrograman, dan teknologi otomasi.














