MAJENE, FMSNEWS.CO.ID — Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Majene selama beberapa hari terakhir menyebabkan sejumlah titik rawan di daerah itu mengalami bencana longsor. Salah satu wilayah yang terdampak cukup parah adalah Desa Onang, Kecamatan Tubo Sendana, yang material longsornya menutup akses jalan utama jalur Trans Sulawesi penghubung Mamuju–Majene.
Longsor yang terjadi pada Kamis malam, 17 November 2022, menyebabkan lumpuhnya arus transportasi di kawasan perbukitan tersebut. Material tanah bercampur batu menutup badan jalan hingga puluhan meter dan membuat kendaraan dari dua arah tidak bisa melintas. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran warga setempat, terlebih curah hujan masih tinggi hingga saat ini.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Majene, Salmawati Djamado, bersama Dandim 1401, Kapolres Majene, dan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turun langsung meninjau lokasi longsor di Dusun Sangian dan Dusun Sumakuyu, Desa Onang. Kehadiran mereka sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan tepat sasaran.
Dalam kunjungan itu, Ketua DPRD terlihat berdialog dengan aparat desa dan warga yang terdampak. Ia mendengarkan langsung keluhan masyarakat yang kesulitan beraktivitas akibat akses jalan tertutup. Sejumlah warga juga mengaku cemas karena kondisi tanah di sekitar permukiman masih labil dan dikhawatirkan terjadi longsor susulan.
“Kami datang memastikan agar penanganan bencana ini mendapat perhatian serius. Jalan ini adalah akses vital penghubung Majene dan Mamuju, sehingga harus segera dibuka kembali,” ujar Salmawati Djamado di lokasi kejadian.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi seperti longsor, terutama di wilayah perbukitan yang berisiko tinggi. Menurutnya, kolaborasi lintas instansi sangat diperlukan agar proses evakuasi material longsor dapat dilakukan lebih cepat.
Sementara itu, Kapolsek Sendana, AKP Muhammad Tauhidi, mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah titik longsor di wilayahnya. Selain di Dusun Sumakuyu dan Dusun Onang Labuang, longsor juga terjadi di Dusun Bellang, Dusun Parabbaya, dan beberapa wilayah Desa Onang Utara.
“Kejadian longsor ini disebabkan oleh curah hujan sangat tinggi yang mengguyur wilayah Majene dan sekitarnya sejak Rabu malam. Kami mengimbau masyarakat, terutama pengguna jalan, untuk berhati-hati dan menunda perjalanan hingga kondisi benar-benar aman,” ujar AKP Tauhid.
Selain di Kecamatan Tubo Sendana, peninjauan juga dilakukan di sejumlah titik lain yang terdampak longsor dan banjir, seperti jembatan penghubung Desa Seppong dan Desa Manyamba Kecamatan Tammerodo Sendana, Pasar Sentral Majene**, Pasar Jembatan Pamboang, serta kawasan Bukit Ondongan Pangaliali.
Pemerintah Kabupaten Majene melalui Dinas PUPR bersama TNI–Polri telah menurunkan alat berat untuk membersihkan material longsor. Namun, akses jalan di beberapa titik masih sulit dilalui karena kondisi medan yang licin dan curam.
Ketua DPRD Majene berharap pemerintah daerah segera menetapkan langkah darurat penanganan agar aktivitas masyarakat bisa pulih. Ia juga meminta dinas teknis memperhatikan kondisi drainase dan tebing di sepanjang jalur Trans Sulawesi guna mencegah longsor susulan.
“Kami mendorong agar penanganan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif. Diperlukan pembangunan tanggul dan penanaman vegetasi penahan tanah di daerah rawan longsor,” tegas Salmawati.
Bencana longsor ini menjadi pengingat bahwa mitigasi dan perbaikan tata kelola lingkungan sangat penting. Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan memperkuat kerja sama agar setiap bencana alam dapat ditangani dengan cepat tanpa menimbulkan dampak yang lebih besar. (Adv)













