MAJENE, FMSNEWS.CO.ID – Banjir bandang kembali melanda wilayah Kabupaten Majene, tepatnya di dua dusun di Desa Salutambung, Kecamatan Ulumanda, Jumat (18/11/2022). Bencana yang dipicu hujan deras berjam-jam tersebut menyebabkan aliran sungai Tubo atau Manyamba meluap, menghanyutkan sedikitnya 27 rumah warga, serta merusak puluhan rumah lain yang berada di sekitar bantaran sungai.
Sebagai bentuk kepedulian, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Majene, Muhammad Safaat, langsung turun ke lokasi bencana. Bersama Kapolsek Malunda-Ulumanda, ia harus berjibaku melewati sejumlah titik longsor yang menutup akses jalan menuju dusun Tatibajo dan Sambalagia. Kondisi jalan yang terjal dan penuh lumpur membuat perjalanan cukup berisiko, namun hal itu tak menyurutkan langkah mereka untuk memastikan kondisi warga terdampak.
Safaat mengatakan, kehadirannya di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai wakil rakyat. Ia menilai, warga yang kehilangan rumah dan tempat tinggal membutuhkan perhatian segera, baik dari pemerintah daerah maupun provinsi. “Pemerintah, baik Pemda Majene maupun Pemprov Sulbar, semoga bisa segera memberikan bantuannya. Masyarakat kita sudah mencoba keluar meninggalkan kampung mereka karena tidak ada lagi yang bisa mereka harapkan untuk bertahan di kampungnya,” tutur Safaat saat ditemui di posko pengungsian Tatibajo-Sambalagia, Sabtu (19/11/2022).
Selain kehilangan tempat tinggal, para korban juga sangat membutuhkan logistik. Oleh karena itu, Safaat mendesak agar bantuan makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan segera disalurkan. Ia juga menekankan perlunya penanganan cepat terhadap akses jalan yang terputus akibat longsor. “Selain bantuan logistik, yang paling mendesak adalah alat berat untuk membuka jalur yang tertutup. Tanpa akses jalan, distribusi bantuan akan sangat terhambat,” jelasnya.
Dari laporan lapangan, diketahui longsor tidak hanya terjadi di jalan menuju dusun Tatibajo dan Sambalagia, tetapi juga di jalur poros Ulumanda yang menghubungkan Desa Kabiraan dan sejumlah desa lain di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat ribuan warga di wilayah pegunungan Ulumanda semakin terisolasi.
Warga setempat mengaku panik dan terpaksa mengungsi ke rumah kerabat yang dianggap lebih aman. Sebagian lainnya bertahan di posko darurat dengan fasilitas seadanya. Mereka berharap pemerintah segera turun tangan memberikan bantuan, khususnya untuk pemulihan rumah yang hanyut terbawa arus.
Safaat juga mengingatkan bahwa wilayah Ulumanda merupakan daerah rawan bencana yang kerap dilanda banjir bandang dan longsor setiap musim hujan. Menurutnya, perlu ada upaya jangka panjang berupa mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan infrastruktur yang lebih tahan terhadap ancaman alam. “Kita tidak boleh hanya bergerak ketika bencana sudah terjadi. Harus ada langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun,” tegas legislator asal Malunda-Ulumanda itu.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat bisa lebih solid. Sinergi tersebut penting agar bantuan bisa segera sampai ke warga dan pembangunan infrastruktur perbaikan jalan bisa dilakukan lebih cepat. “Kalau semua pihak bergerak bersama, beban masyarakat bisa lebih ringan,” pungkas Safaat.
Dengan kondisi saat ini, warga Desa Salutambung hanya bisa menunggu uluran tangan pemerintah dan pihak terkait untuk membantu mereka bangkit dari musibah. Banjir bandang di Ulumanda kembali menjadi pengingat bahwa daerah rawan bencana harus mendapat perhatian serius demi keselamatan masyarakat yang tinggal di dalamnya. (Adv/har)













