POLMAN – FMSnews.co.id, Kondisi cuaca ekstrem kembali menguji kesiapan infrastruktur di Kabupaten Polewali Mandar. Luapan Sungai Mandar akibat hujan deras yang mengguyur wilayah hulu sejak Rabu malam, menyebabkan debit air meningkat drastis dan melumpuhkan total akses penyeberangan menggunakan rakit bambu di Kecamatan Alu, Kamis (23/04/2026).
Akibatnya, ratusan warga, terutama pelajar dan tenaga pendidik, menjadi korban dari minimnya jembatan penghubung. Mereka terpaksa menempuh perjalanan jauh dan melelahkan dengan memutar jalan hingga puluhan kilometer demi bisa sampai ke sekolah.
Biasanya, perjalanan dari Desa Saragian dan Kalumammang menuju pusat pendidikan di Desa Mombi dan Kelurahan Petoosang hanya memakan waktu beberapa menit dengan menyeberang menggunakan rakit. Namun kini, jalur tersebut tertutup total oleh arus sungai yang deras dan keruh.
Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah memutar jauh melewati jalur Tinambung hingga ke Galung Lombok, yang memotong sedikitnya 12 desa. Jarak yang seharusnya dekat, kini berubah menjadi perjalanan berjam-jam yang menguras waktu, tenaga, dan biaya.
“Air sungai naik drastis, arusnya sangat deras, jadi rakit sama sekali tidak bisa beroperasi. Akibatnya, anak sekolah, guru, hingga pegawai harus putar jalan luar biasa jauh,” ungkap salah satu warga di lokasi.
Dampak parah dirasakan oleh dunia pendidikan. SMA Negeri 1 Alu dan sejumlah institusi pendidikan lainnya terpaksa mengambil kebijakan darurat. Mengingat jarak yang terlalu jauh dan kondisi jalan yang tidak menentu, pihak sekolah memutuskan untuk tidak menjatuhkan sanksi bagi siswa yang tidak bisa hadir.
“Kami mengerti kondisi mereka sangat sulit. Oleh karena itu, proses belajar mengajar sementara kami alihkan melalui sistem online atau daring agar siswa tetap bisa mengikuti pelajaran meski tidak bisa hadir fisik di kelas,” ujar salah satu guru.
Selain dunia pendidikan, aktivitas ekonomi masyarakat juga ikut terhenti. Distribusi barang dan mobilitas warga lumpuh total, memperlihatkan betapa rentannya wilayah ini jika hanya bergantung pada rakit bambu sebagai satu-satunya akses.
Kejadian ini kembali menjadi sorotan tajam dan menyoroti kegentingan masyarakat akan minimnya pembangunan infrastruktur. Selama bertahun-tahun, masyarakat di wilayah perbatasan ini hanya mengandalkan rakit sebagai urat nadi kehidupan.
Setiap kali musim hujan tiba dan sungai meluap, kehidupan warga seakan terhenti. Pendidikan terganggu, ekonomi mandek, dan warga menjadi korban ketidakpastian alam.
Masyarakat kini menatap pemerintah dengan harapan besar. Mereka mendesak hadirnya solusi permanen, bukan sekadar janji. Pembangunan jembatan beton yang kokoh dinilai menjadi kebutuhan mendesak yang tidak bisa lagi ditunda, demi masa depan anak-anak dan kesejahteraan bersama.
Hingga berita ini diturunkan, air Sungai Mandar masih terlihat tinggi dan arus tetap kuat, sementara ribuan warga masih harus bersabar menunggu air surut atau berjuang menempuh jalan memutar yang melelahkan.













