MAJENE, FMSNEWS.CO.ID – Usulan kenaikan insentif dokter spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Majene kembali menjadi perhatian serius dalam Rapat Evaluasi Realisasi Anggaran Tahun 2022 Triwulan I, II dan III yang digelar di Gedung DPRD Majene, Rabu (30/11/2022). Pihak rumah sakit mengajukan penambahan insentif bagi dokter spesialis dari sebelumnya Rp13 juta menjadi Rp15 juta per bulan.
Direktur RSUD Majene, dr Nurlina, SP, menjelaskan bahwa kebijakan menaikkan insentif bukan semata-mata tuntutan internal, melainkan kebutuhan mendesak untuk mempertahankan keberadaan dokter spesialis di Majene. Menurutnya, sejumlah daerah lain telah memberikan insentif yang jauh lebih besar sehingga rawan menjadi daya tarik bagi dokter untuk berpindah.
“Misalnya di Mamuju Utara (Pasangkayu) insentifnya Rp30 juta per bulan,” ujar Nurlina dalam rapat tersebut. Ia menegaskan, perbandingan angka tersebut menunjukkan bahwa insentif dokter RSUD Majene masih sangat rendah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bila para dokter spesialis nantinya memilih pindah ke daerah lain yang menawarkan fasilitas lebih baik.
Nurlina mengungkapkan bahwa keberadaan dokter spesialis sangat menentukan kualitas pelayanan medis di RSUD Majene. Oleh karena itu, mempertahankan mereka adalah upaya penting agar pelayanan kesehatan masyarakat tetap optimal. “Jangan sampai mereka (dokter spesialis) tidak berminat di Majene,” katanya.
Ia menambahkan, peningkatan insentif sedikit saja akan memberi dampak signifikan. “Sebaliknya kata dia, jika insentif dokter di RSUD Majene sedikit lebih tinggi maka tentu akan menjadi daya tarik para dokter untuk datang ke Majene,” lanjutnya.
Sementara itu, anggota Komisi III DPRD Majene, Wahab, turut memberikan tanggapan terkait usulan tersebut. Menurutnya, pihak rumah sakit memiliki dasar kuat dalam mengajukan penyesuaian insentif karena mempertimbangkan kondisi di daerah lain. “Menurut kajian Rumah Sakit dia mengajukan usulan untuk penambahan insentif dokter karena membandingkan dengan daerah lain. Kalau memang itu untuk menjaga posisi dokter tetap bertugas di Majene ya kenapa tidak, kita harus dukung bersama,” ujar Wahab.
Meski demikian, ia mengingatkan agar pemerintah daerah tetap mempertimbangkan kemampuan fiskal sebelum memutuskan besaran kenaikan yang disetujui. “Kita melihat-lah kira-kira layaknya, wajarnya berapa, lalu kita kondisikan juga dengan kondisi keuangan daerah,” tambahnya.
Wahab menilai bahwa insentif yang memadai memiliki hubungan erat dengan peningkatan kualitas pelayanan rumah sakit kepada masyarakat. Menurutnya, ketenangan dan kenyamanan tenaga medis dalam bekerja sangat bergantung pada apresiasi yang mereka terima dari pemerintah daerah. “Bagaimana bisa menjaga pelayanan kepada masyarakat tentu ini (insentif) akan sangat berpengaruh,” pungkasnya.
Usulan kenaikan insentif dokter spesialis ini diharapkan menjadi jalan keluar atas tantangan kekurangan tenaga medis di RSUD Majene. Dengan persaingan antar daerah yang semakin ketat dalam menarik tenaga dokter profesional, Majene perlu memastikan agar insentif yang diberikan tetap kompetitif dan mampu mempertahankan kualitas layanan kesehatan untuk masyarakat. (Adv)













